:: made by order :: pemesanan ::
:: email fitriaa06@yahoo.com
:: sms +62541-9123389
:: fb www.facebook.com/fitriaa06
:: made by order :: pemesanan ::
:: email fitriaa06@yahoo.com
:: sms +62541-9123389
:: fb www.facebook.com/fitriaa06
Ini bukan promosi loh, sekali lagi lagi bukan promosi. Aku cuma ingin memanfaatkan sesuatu yang rasanya “dibuang sayang”. Sudah cukup lama dikumpulin tapi baru sekarang menemukan ide untuk memakainya.Di rumah aku menggunakan detergen bubuk yang kemasannya terbuat dari plastik dimana di bagian depan plastic tersebut ada 2 buah kawat, di kanan dan di kiri, yang fungsinya adalah untuk memudahkan kita dalam melipat kemasan detergen bubuk tersebut.


Aku suka sekali menjahit (tentu saja..hihi). Benang dan spull adalah salah satu yang terpenting dalam menjahit. Benang dan spull ku tidak cuma satu (tentu saja..hihi), keduanya ada banyak dan berantakan tidak teratur.

Jadi ku menggunakan kawat-kawat tersebut untuk menggabungkan benang dan spull dengan warna yang sama dengan tujuan untuk memudahkan pencarian kalau diperlukan dan ternyata cukup membantuku ;)
Ketika disimpan semuanya (benang dan spull yang sudah diberi kawat) ketika akan mengambil/menariknya dari tempat penyimpanan benang, mungkin harus sedikit berhati-hati, karena kadang-kadang kawatnya akan tersangkut ke benang di sekitarnya. Untuk mengatasinya adalah jangan terlalu rapat meletakkan benang yang satu dengan benang yang lain, beri kelonggaran sedikit.




Hari ini beberapa kali listrik padam, tidak bisa menjahit karena mesin jahitku menggunakan dinamo, padahal banyak yang ingin ku selesaikan. Aku khusus menyediakan hari sabtu untuk membuat finishing pada baju-baju yang kubuat, entah itu lubang kancingnya, obrasnya, ataupun merapikan hem. Akhirnya dinamo pada mesin jahit singerku aku lepas lagi, dari pada tidak bisa menjahit sama sekali.
Ternyata untuk situasi di mana kota kita sering terjadi pemadaman listrik, ada manfaatnya juga tetap mempertahankan memiliki mesin jahit manual, walaupun kerjanya jadi lebih lambat, karena harus di"genjot terus". Tapi yang penting tetap bisa menjahit ^.^
Terus terang sudah 2 tahun aku punya mesin jahit ini (yamato JH653) tapi sangat jarang menggunakan sepatu-sepatu bawaan dari mesin jahitnya, bahkan ada yang belum pernah digunakan sama sekali. hehe.. Beberapa sudah pernah ku coba memakainya, tapi hasilnya sama sekali tidak bagus, mungkin karena belum terbiasa dan belum menemukan "celahnya".
Salah satu yang berhasil ku gunakan adalah sepatu hem (hemming foot) yang ku pakai untuk menjahit bagian bawah baju adikku. Karena males banget keluar rumah untuk me"neci"kan bagian bawah kain, jadi aku mulai mencoba-coba menggunakan hemming foot itu dan berhasil.

hemming foot pada yamato

perbandingan hemming foot pada mesin jahit biasa (mis. singer) dan yamato


proses menjahit dengan hemming foot, kain dikeluarkan sedikit melalui bagian yang melengkung

hasil jahitan dengan hemming foot, rapi, dengan kampuh yang kecil (± 1 cm)
alternatif lain untukku kalau malas neci
Selain hemming foot, masih ada beberapa sepatu yang belum pernah ku pakai atau aku belum mahir menggunakannya.

ketika membeli ini, penjualnya bilang ini buat menjahit kerut, tapi aku bingung cara pemakaiannya

katanya ini untuk menjahit retsleting jepang, benarkah? bagaimana cara pakainya ya?

Sepertinya ini jenis hemming foot yang lain, tapi bedanya kampuhnya agak besar, aku pernah menggunakannya tapi hasilnya belum bagus. Mungkin nanti kalau sudah berhasil tidak perlu repot lagi "ngesum-ngesum"

sebelum

setelah di rapikan
Beberapa waktu yang lalu, hasil jahitan ku selalu kelihatan tidak rapi, bagian bawahnya kelihatan rapi dan rapat benangnya, tapi kok bagian atasnya benangnya kendur. Sampai akhirnya aku merasa kesal. Guruku bilang, kalau hasil jahitan atas yang kendur berarti ada yang salah dengan spull/sekoci bawahnya, sedangkan kalau hasil jahitan bawah yang kendur, berarti ada yang salah dalam memasang benang bagian atas. Berkali-kali ku cek, tidak ada yang salah dalam proses memasang benangku, dan spull/sekocinya pun ku periksa, tampaknya baik-baik aja. Padahal mesin jahit ini tidak pernah kerja keras, dipakainya pun tidak seharian penuh, tapi kenapa hasil jahitannya jadi jelek seperti ini, masa harus di bawa ke tukang service mesin jahit sih, aduh males banget (jauh dan masuk ke gang kecil lagi).
Akhirnya, ku putuskan untuk mencoba membuka bagian bawah mesin, tempat meletakkan sekoci (shuttle race). Pelan-pelan kubersihkan dengan kuas kecil dan kupasang kembali. Trus ku coba menjahit lagi, walah... Alhamdulillah hasil jahitannya bagus lagi. Ternyata perlu dibuka, dibersihkan dan dipasang kembali.

shuttle race
Kemudian, masalah yang lain yang pernah kutemui ketika aku menjahit, adalah hasil jahitanku, benang atas dan bawahnya tidak mau saling " mengait". jadi seperti menjahit tanpa ada benang di bawahnya. Ku periksa semua, cara masukin benang atas, sudah benar. Sekoci di periksa, kubuka shuttle race, dibersihkan dan dipasang kembali. Perasaan semua sudah diperiksa tapi kok hasil jahitannya masih seperti itu ya. Aku menyerah dan akhirnya minta bantuan guruku. Ternyata apa coba? Memasang jarumnya ketinggian. Ketinggian ??? aku bingung, bukannya tempat jarum itu ada penahannya, kok bisa ketinggian ya. Hehe.. ternyata mesin jahitnya mungkin sudah berumur alias tua, mungkin sudah doll penahannya.. lol..
penahan jarum di mesin jahit yamato
penahan jarum pada mesin jahit singer
Hehe..Sekarang mesin jahit sudah sehat kembali.. Ayo menjahit lagi ;D